October 2007


Sumber : proyeksi.com

Rayap, tubuhnya memang kecil, tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan sebuah bangunan. Belum banyak yang mengetahui cara pencegahan dan pengendaliannya. Karena semakin lama rayap dibiarkan dilingkungan anda, maka semakin besar kemungkinan mereka mengakibatkan kerusakan yang lebih jauh lagi.

Rayap merupakan jenis serangga yang tidak asing lagi ditelinga kita, yang selalu dikaitkan dengan “si perusak” keberadaannya sangat menyeramkan dan dengan gerakan komunitinya dapat meruntuhkan bagian rumah atau gedung.

Di Indonesia khususnya di DKI Jakarta kecenderungan serangan rayap semakin tinggi pada bangunan gedung, bukan hanya yang berfungsi sebagai hunian tetapi juga pada bangunan gedung bertingkat untuk fungsi usaha seperti perkantoran, apartemen, hotel dan pusat perbelanjaan. Bahkan beberapa gedung di DKI menunjukkan sudah mulai atau pernah digerogoti rayap tanah, seperti Gedung Bina Graha Jakarta, Museum Gajah, Purna Bakti Pertiwi, Gereja Immanuel, Masjid Manggala Wanabhakti serta beberapa bangunan gedung sekolah dan lebih dari 10 apartemen bertingkat di daerah Simprug, HR Rasuna Said, Semanggi, Menteng, dan Kelapa Gading.

Salah satu penyebab bergerak cepatnya penyebaran rayap di DKI adalah, karena hampir seluruh daerah di ibu kota ini, berada pada dataran rendah dengan suhu yang hangat dan kelembaban yang tinggi sehingga kondisi lingkungan ini sangat disukai oleh beberapa jenis rayap. Hal lain adalah pengaruh lahan-lahan yang ada berupa tanah merah gembur dan bekas pertanian, di mana 90 persen mengandung populasi rayap yang tinggi.

Tidak tanggung-tanggung menurut data kerugian ekonomis yang dialami Indonesia sampai pada tahun 2000 akibat rayap mencapai angka Rp 2,67 triliun, serta rata-rata persentase serangan rayap pada bangunan perumahan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Batam mencapai angka 70% lebih, angka tersebut akan semakin bertambah melihat kecenderungan terakhir ini, bahwa nilai kerugian akibat rayap setiap tahunnya meningkat sekitar lima persen seiring meningkatnya pembangunan gedung, terutama gedung bertingkat yang ada di Jakarta. (more…)

Advertisements

ANDA layak bersyukur apabila belum pernah berurusan dengan koloni serangga kecil berwarna putih bernama rayap. Artinya, Anda terhindar dari suatu masalah kecil yang dapat membawa kerepotan yang cukup besar.

SEBERAPA besar kerepotan yang mungkin diakibatkan oleh suatu serangan rayap? Mungkin sangat besar dan membuat jera sehingga orang rela mengeluarkan biaya besar untuk pelaksanaan paket antirayap, ataupun memasang rangka atap dari bahan baja ringan dengan biaya yang berlipat-lipat kali dibandingkan dengan menggunakan rangka atap dari kayu.

Kayu tetap digemari

Semua itu dilakukan demi menghindarkan berurusan dengan rayap di kemudian hari. Serangan rayap mungkin bakal sangat merepotkan dan hingga kapan pun kayu tetap merupakan bahan pokok kesukaan serangga tersebut. Namun, toh sebagian besar orang tetap menggemari kayu sebagai bagian dari struktur rumah dan juga sebagai elemen interior.

Bagi orang yang menyukai penggunaan material kayu pada struktur bangunan dan elemen interior huniannya, ada beberapa cara untuk mengantisipasi serangan rayap. (more…)

Sumber : suarakarya-online
Indonesia yang kaya budaya memiliki keanekaragaman ciri khas di setiap daerahnya. Wilayah barat Indonesia memiliki perbedaan dengan wilayah timur mulai dari bahasa, warna kulit, sampai adat istiadat. Perbedaan ini juga terdapat cara kehidupan sehari-hari dan bagaimana melewatkan waktu di rumah.

Orang yang tinggal di wilayah pantai barat Sumatera misalnya, lebih memilih untuk menjadi nelayan ketimbang bercocok tanam, sementara mereka yang di pedalaman memilih untuk bercocok tanam.
Pada zaman dulu perbedaan ini termasuk dalam pengaplikasian tempat tinggal. Bagi orang yang berada di wilayah pedalaman akan merasa lebih aman bila memiliki rumah yang tinggi untuk menghindari binatang buas. Sementara yang tinggal di wilayah pantai lebih memilih rumah yang dekat dengan pantai dan menggunakan bahan dari bambu dan kayu agar rumah tetap mengapung jika diterjang air.
Unsur kayu dalam pembuatan rumah merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan, misalnya untuk pembuatan atap, kisi-kisi rumah, dan jendela. Kayu yang memiliki tekstur lembut dan menyejukkan ruangan, membuat nenek moyang kita lebih sering menggunakan kayu untuk membuat rumah mereka.
Selain alasan belum tersedianya bahan bangunan seperti sekarang, kayu juga digunakan karena alasan kenyamanan dan kemudahan. Sistem nomaden yang mengharuskan penghuni rumah berpindah tempat, maka dengan rumah kayu memungkinkan mereka membongkar dan memasang kembali rumahnya di tempat yang mereka inginkan.
Peminat rumah kayu tidak pernah berkurang. Ini dibuktikan oleh Edy Subiantoro yang menjadi marketing di rumahkayu.com. Dia menyatakan bahwa peminatnya tidak saja dari Tanah Air tapi juga dari mancanegara.
Rumahkayu.com menghadirkan rumah kayu modern (modern wooden house) dengan rancangan sistem bongkar pasang (knock down) yang imajinatif dan artistik.
Menurut Edy, pemilihan kayu jati dilakukan selain karena alasan kekuatan juga keindahan guratan kayu yang dapat menimbulkan kesan kesejukan dan keharmonisan. “Jaminan kekuatan adalah nilai tambah dari kami, karena diproses secara teliti dengan teknologi modern pengolahan kayu sehingga tetap mempertahankan keindahan guratan tekstur kayu sesuai aslinya,” ujar Edy.
Spesifikasi tipe rumah kayu yang besar berukuran (L) 6 meter x (P) 9 meter, dengan lantai, dinding, tiang, dan kuda-kuda menggunakan kayu jati. Pondasi terbuat dari umpak batu, sementara genteng plentong warna natural. Lama pembuatan rumah kayu ini antara 1,5 hingga 2 bulan. Tipe kecil berukuran antara (L) 6 m x (P) 7 m dengan waktu membuatan dan kayu yang sama. Ukuran-ukuran ini memang terkesan kecil dibandingkan dengan rumah kayu zaman dulu, yang masih dapat kita temui di Kalimantan yang ukurannya bisa mencapai (L) 10 m x (P) 25 m. (more…)